Rabu, 26 November 2014

Just A Few Words

Ketika seorang wanita menemukan tempatnya berlabuh, dia akan mencintai dan mempertahankannya sepenuh hati. Tindakannya yang sekarang memang hanyalah menyakiti dirinya sendiri dan orang yang dia cintai. Dia hanya mampu berharap waktu mampu menemaninya dalam kesendiriannya, dalam tetesan air matanya, dalam renungannya, dalam hening malamnya dan setiap  dia menyebut nama lelaki yang dia cintai.
Saat ini dia terlihat sangatlah jahat. Meninggalkan orang yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk wanita itu. Wanita ini hanya berharap sang lelaki mampu berdiri tegak dalam penantian penyatuan mereka. Mereka hanya mampu berharap dan bertahan. Hanya itu.
Entah kenangan ini atau waktu yang kejam. Wanita ini tak tahu dengan pasti. Dia hanya mampu menitikkan air mata di keheningan pagi, di tengah malam saat dia terjaga, saat dia sendiri, bahkan dalam sujudnya pun dia masih menitikkan air mata.
Telah banyak air mata yang dia tumpahkan untuk lelaki itu, tapi sepertinya dia tak pernah lelah menangisinya. Terkadang terselip malu dalam hatinya saat dia menangisinya. Bukankah dia yang meninggalkan? Bukankah dia yang menyakiti? Bukankah dia tau rasa sakit yang dialami si lelaki lebih besar dari yang dia rasakan?
Dia malu disetiap tetesan air matanya, dia disetiap kata yang dia kirimkan dalam pesan singkatnya. Dia malu masih menyebut namanya di setiap malamnya, dia malu masih membuka semua akun media sosialnya. Wanita ini malu masih melakukan semua itu setelah semua yang dia lakukan.

Bukannya hati memang tak tau malu dalam urusan seperti ini? Hatinya masih peduli, masih ingin memiliki, masih ingin bersama, masih menginginkannya. Saat wanita ini mengingat apa yang telah dia lakukan, dia hanya mampu tersenyum sinis. Menyadari kebodohannya tanpa tahu bagaimana harus memperbaikinya.