Ketika seorang wanita menemukan
tempatnya berlabuh, dia akan mencintai dan mempertahankannya sepenuh hati.
Tindakannya yang sekarang memang hanyalah menyakiti dirinya sendiri dan orang
yang dia cintai. Dia hanya mampu berharap waktu mampu menemaninya dalam
kesendiriannya, dalam tetesan air matanya, dalam renungannya, dalam hening
malamnya dan setiap dia menyebut nama
lelaki yang dia cintai.
Saat ini dia terlihat sangatlah
jahat. Meninggalkan orang yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk
wanita itu. Wanita ini hanya berharap sang lelaki mampu berdiri tegak dalam
penantian penyatuan mereka. Mereka hanya mampu berharap dan bertahan. Hanya
itu.
Entah kenangan ini atau waktu yang
kejam. Wanita ini tak tahu dengan pasti. Dia hanya mampu menitikkan air mata di
keheningan pagi, di tengah malam saat dia terjaga, saat dia sendiri, bahkan
dalam sujudnya pun dia masih menitikkan air mata.
Telah banyak air mata yang dia
tumpahkan untuk lelaki itu, tapi sepertinya dia tak pernah lelah menangisinya.
Terkadang terselip malu dalam hatinya saat dia menangisinya. Bukankah dia yang
meninggalkan? Bukankah dia yang menyakiti? Bukankah dia tau rasa sakit yang dialami
si lelaki lebih besar dari yang dia rasakan?
Dia malu disetiap tetesan air
matanya, dia disetiap kata yang dia kirimkan dalam pesan singkatnya. Dia malu
masih menyebut namanya di setiap malamnya, dia malu masih membuka semua akun
media sosialnya. Wanita ini malu masih melakukan semua itu setelah semua yang
dia lakukan.
Bukannya hati memang tak tau malu
dalam urusan seperti ini? Hatinya masih peduli, masih ingin memiliki, masih
ingin bersama, masih menginginkannya. Saat wanita ini mengingat apa yang telah
dia lakukan, dia hanya mampu tersenyum sinis. Menyadari kebodohannya tanpa tahu
bagaimana harus memperbaikinya.