Ada saat di
mana kita harus benar-benar memperjuangkan sesuatu. Namun, ada pula saat di
mana kita harus menyerah memperjuangkannya.
Mungkin
hanya setipis kulit bawang perbedaan antara mana yang harus kita perjuangkan
dan mana yang harus kita lepaskan.
Di saat kita
mati-matian memperjuangkan hal tersebut, tanpa kita sadari ternyata hal
tersebutlah yang harus kita lepaskan sejak dulu. Hal yang ternyata sebenarnya
tidak layak untuk kita perjuangkan, hal yang memang tidak pantas untuk di
pertahankan. Kita yang sebenarnya telah lelah menjalani rutinitas tersebut,
tidak mungkin merasakannya. Karena menurut kita apa yang kita lakukan itu
benar. Menurut kita hal tersebut memang benar-benar layak.
Saat kita
menyadarinya, bahwa yang kita lakukan itu salah. Semuanya terlambat, tanpa ada
ruang yang cukup untuk meratapi penyesalan. Tanpa ada sisa yang cukup untuk
memperbaikinya. Dan akhirnya kita pun terlalu lelah untuk meratapinya. Terlalu
lelah untuk menyadari betapa bodohnya kita dulu.
Hingga
akhirnya kita berhenti dan menoleh ke belakang. Lalu benak ini pun mulai sibuk
mencaci dan bertanya. Apa yang telah ku lakukan dulu? Haruskah aku memulainya
lagi dari awal? Di manakah posisiku dulu?
Mungkin dulu
kita tidak tahu, tapi waktu mengajarkan kita untuk belajar. Ada sesuatu di
samping hal tersebut. Kita tidak pernah menyadarinya karena kita terlalu sibuk
memperjuangkan hal-hal yang tidak berarti.
Ada sesuatu
yang telah menunggu untuk di temukan. Sesuatukah? Atau seseorang? Entahlah,
waktu sepertinya juga akan mengajari kita untuk menemukan hal tersebut.
Hal
tersebutlah yang sebenarnya harus kita perjuangkan. Dia yang telah menunggumu
terlalu lama. Menunggu tanpa protes ataupu keluh kesah. Dia yang selama ini
melihatmu memperjuangkan hal yang lainnya. Dia yang hanya sanggup tersenyum
miris saat melihatmu jatuh karena hal bodoh yang telah kau lakukan. Tapi, dia
juga lah yang selama ini selalu menjaga api kehangatan dalam hatimu untuk tetap
menyala. Dia yang sabar menantimu.
Waktupun
telah menjadi guru yang baik bagi kita. Dia yang mengajarkan kita untuk melihat
setipis kulit bawang tersebut. Melihat mana yang pantas untuk kita perjuangkan
mati-matian, mana yang harus kita lepaskan.
Apa yang
seharusnya aku lepaskan, telah aku lepaskan. Apa yang harus aku perjuangkan pun
sedang ku perjuangkan. Apa yang bukan milikku pun telah aku lepaskan. Yang
menjadi milikku pun tak akan mungkin ku bagi, dengan siapapun itu.
Waktu dengan
baik hati menunjukkan perbedaan setipis kulit bawang itu. Perbedaan yang akan
amat sangat menyakitkan saat kita menoleh untuk melihatnya. Perbedaan yang
membuat kita sadar, air matapun tak pantas untuk meratapinya.
Akhirnya
aku, kamu, dia, dan kita sama-sama belajar. Belajar melihat perbedaan yang
hanya setipis kulit bawang tersebut. Belajar untuk tersenyum saat kita menoleh
ke belakang. Belajar mengucapkan perpisahan dengan baik dan benar pada hal-hal
yang tidak layak kita perjuangkan tersebut. Belajar menerima kehidupan yang
kita miliki tanpa harus menoleh kanan dan kiri.
Aku sadar,
berat untuk mempelajari hal tersebut. Namun, apalah artinya hidup tanpa belajar
bukan?
27 June 2014